Bahan:

1 kg ikan patin, siangi, cuci bersih, potong2x, lumuri dgn 1 sdm air jeruknipis ± 15 menit, tiriskan.
3 btg serai, memarkan
3 lbr daun salam
5 cm jahe, memarkan
3 buah tomat merah, belah 4
5 buah tomat hijau, belah 4
2 buah cabai merah, iris halus ± 2 cm
15 buah cabai rawit utuh
25 gr daun kemangi
3 sdm air asam
2 sdm kecap manis
2 sdm gula merah
Garam secukupnya
Gula secukupnya

Bahan Yang Dihaluskan:
5 buah cabai merah
6 siung bawang putih
6 buah bawang merah

Cara Membuat:
Rebus bumbu halus, daun salam, serai, jahe, lengkuas dalam panci berisi 1250 cc air, dengan api sedang

Masukkan ikan dan bahan lainnya, beri garam sesuai selera hingga terasa asam, manis, dan pedas. masak hingga matang.

Berdasarkan report dari Food and Agriculture Organization (FAO), perubahan iklim ternyata berdampak buruk pada keamanan pangan (food safety), dari seafood sampai resistensi terhadap antibiotik.

Menurut laporan FAO tersebut, global warming yang akan terus meningkat akan mengakibatkan terjadinya badai yang lebih besar, musim hujan dan musim panas yang ekstrim, dan naiknya permukaan air laut sebagai gejala primer dari perubahan iklim. Perubahan-perubahan ini akan sangat berdampak pada keamanan maupun produksi pangan dunia.

Perubahan iklim dapat berdampak drastis pada keamanan dari pangan berupa seafood karena dapat meningkatkan frekuensi perkembangbiakan alga toksik, mendukung pertumbuhan Vibrio vulnificus (bakteri penyebab penyakit kolera), dan memfasilitasi metilasi mercury. Semuanya membahayakan kesehatan manusia.

Data dari FAO juga menunjukkan bahwa lonjakan suhu dan kelembaban meningkatkan penyakit pada makanan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella dan Campylobacter dan patogen seperti E.coli dan Salmonella dapat menjadi lebih berbahaya.

Perubahan iklim juga dapat berdampak pada zoonosis, penyakit-penyakit yang menular antara hewan dan manusia, dengan meningkatkan siklus transmisi vektor seperti lalat dan nyamuk.

Sumber :

Jurnal FAO : CLIMATE CHANGE: IMPLICATIONS FOR FOOD SAFETY

Rumput laut adalah sejenis tumbuhan tingkat rendah yang banyak hidup di laut, baik di daerah tropis seperti di Indonesia, subtropis maupun empat musim. Indonesia, yang memiliki perairan Indonesia yang seluas dua-pertiga dari keseluruhan wilayahnya yaitu dari Sabang hingga Merauke, merupakan habitat berbagai macam jenis rumput laut. Namun, dari beragam jenis tersebut, yang dimanfaatkan secara optimal belum banyak, bahkan yang dibudidayakan di pantai-pantai di Indonesia hanya terbatas pada jenis dari genus Echeuma, Gracilaria dan Sargassum.

Nori adalah nama dalam bahasa Jepang untuk bahan makanan berupa lembaran rumput laut yang dikeringkan. Nori digunakan sebagai hiasan dan penyedap berbagai macam masakan Jepang, lauk sewaktu makan nasi, dan bahan makanan ringan seperti senbei. Bahan baku adalah rumput laut dari genus Porphyra. Pemanfaatan rumput laut Porphyra sp. di Indonesia banyak ditemui di Laut Banda Ambon, perairan Serui Papua dan di Teluk Bitung. Selama ini pemanfaatannya hanya untuk dijadikan sayuran yang dikonsumsi oleh masyarakat sekitar perairan, namun kini pemanfaatannya dapat lebih dioptimalkan lagi sebagai nori, baik sebagai nori lembaran maupun nori serbuk.

Selama ini nori lembaran yang banyak dijual atau digunakan pada restoran-restoran (terutama restoran Jepang/Korea) adalah nori impor yang diantaranya berasal dari Jepang, Korea dan China. Dengan adanya kemampuan memproduksi nori yang berbahan baku dari perairan di Indonesia maka secara bertahap akan mampu menggantikan penggunaan nori impor. Pemanfaatan rumput laut kadang menghadapi kendala yaitu belum terbiasanya masyarakat Indonesia mengkonsumsi rumput laut.